Jumat, 09 Januari 2026

Peran Pemimpin Baru NU dalam Meneguhkan Kepemimpinan Umat dari Banyuwangi untuk Indonesia

Terpilihnya pimpinan baru Nahdlatul Ulama (NU) di Banyuwangi menjadi momentum penting, bukan hanya bagi warga NU di daerah, tetapi juga bagi kepemimpinan umat Islam secara lebih luas. 

Di tengah perubahan sosial yang cepat, tantangan global, serta dinamika generasi yang kian beragam, NU kembali dihadapkan pada tugas utamanya: menjaga tradisi, merawat persatuan, dan menghadirkan kepemimpinan yang menenangkan serta relevan dengan zaman.

Banyuwangi memiliki posisi strategis sebagai wilayah tapal batas timur Pulau Jawa yang menjadi miniatur keberagaman Indonesia. 

Di daerah ini, nilai keislaman, kearifan lokal, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat saling bertaut. 

Kepemimpinan NU di Banyuwangi bukan sekadar soal struktur organisasi, melainkan soal bagaimana ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin dihadirkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari umat.

Pemimpin baru NU memikul amanah besar untuk menjaga marwah keulamaan sekaligus menjembatani dialog antar-generasi. 

Di satu sisi, NU memiliki basis tradisi kuat yang dijaga oleh para kiai dan pesantren. 

Di sisi lain, muncul generasi muda—termasuk Gen Z—yang tumbuh di era digital, kritis, dan terbiasa dengan arus informasi cepat. 

Kepemimpinan NU hari ini dituntut mampu berbicara dengan bahasa yang membumi tanpa kehilangan nilai-nilai keilmuan dan akhlak.

Peran strategis NU di tingkat daerah seperti Banyuwangi juga tidak bisa dilepaskan dari kontribusinya terhadap kehidupan berbangsa. 

NU selama ini dikenal sebagai pilar penyangga moderasi Islam di Indonesia. 

Dari pesantren hingga ruang publik, NU hadir sebagai kekuatan sosial yang menenangkan, bukan memecah.

 Pemimpin baru NU diharapkan mampu melanjutkan peran ini dengan pendekatan yang inklusif, dialogis, dan adaptif terhadap tantangan zaman.

Dalam konteks kepemimpinan umat, NU tidak hanya berbicara tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang keadilan sosial, pendidikan, ekonomi umat, dan persatuan bangsa. 

Banyuwangi sebagai daerah dengan potensi ekonomi, pariwisata, dan budaya yang besar membutuhkan peran NU dalam memastikan pembangunan berjalan seiring dengan nilai moral dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Pemimpin NU hari ini juga dihadapkan pada tantangan ruang digital. 

Media sosial telah menjadi ruang baru dakwah, sekaligus ruang yang rawan polarisasi dan disinformasi. 

Di sinilah kepemimpinan NU diuji: bagaimana menghadirkan narasi keislaman yang sejuk, faktual, dan solutif di tengah derasnya konten provokatif. 

Gen Z membutuhkan figur dan institusi yang tidak menggurui, tetapi mau mendengar, berdialog, dan memberi teladan.

Kepemimpinan NU di Banyuwangi juga memiliki resonansi nasional. 

Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan NU di daerah-daerah justru menjadi fondasi kokoh bagi NU di tingkat nasional.

 Ketika NU di akar rumput solid, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat, maka NU di tingkat nasional akan semakin kuat dalam menjaga persatuan Indonesia.

Lebih luas lagi, peran NU tidak hanya berhenti pada konteks Indonesia. 

Di mata dunia, NU sering dipandang sebagai contoh Islam moderat yang mampu berdampingan dengan demokrasi, keberagaman, dan nilai kemanusiaan universal.

Kepemimpinan baru NU, termasuk di daerah seperti Banyuwangi, menjadi bagian dari wajah Islam Indonesia yang ramah dan beradab di mata global.

Namun, semua harapan itu hanya bisa terwujud jika amanah kepemimpinan dijalankan dengan prinsip keteladanan. 

Kepemimpinan NU bukan soal popularitas, melainkan soal keikhlasan melayani. 

Bukan soal suara paling keras, tetapi soal sikap paling menenangkan. 

Di tengah masyarakat yang lelah oleh konflik dan perbedaan, NU diharapkan tetap menjadi rumah besar umat yang teduh dan mempersatukan.

Terpilihnya pemimpin baru NU di Banyuwangi menjadi titik awal untuk memperkuat kembali peran tersebut. 

Dengan mengedepankan nilai rukun, gotong royong, dan keilmuan, NU diharapkan mampu menjawab tantangan zaman tanpa tercerabut dari akar tradisinya. 

Kepemimpinan yang kuat bukan yang menutup diri dari perubahan, tetapi yang mampu menyaring perubahan dengan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, kepemimpinan NU adalah tentang menjaga keseimbangan: antara tradisi dan inovasi, antara lokal dan nasional, antara generasi tua dan muda. 

Dari Banyuwangi untuk Indonesia, bahkan untuk umat manusia seluruhnya.

NU kembali diberi amanah untuk menjadi penuntun jalan tengah—jalan yang damai, adil, dan bermartabat.
Share:

Minggu, 04 Januari 2026

Workshop TOTAL: Langkah Strategis PKS Banyuwangi Menatap Kemenangan 2029

Transformasi digital bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keniscayaan bagi setiap organisasi yang ingin tetap relevan dan unggul di tengah perubahan zaman. 

Menyadari hal tersebut, Tim DPD PKS Banyuwangi menghadiri Workshop TOTAL (Transformasi Digital) yang diselenggarakan oleh DPW PKS Jawa Timur di Kantor DPD PKS Jember. 

Kegiatan ini menjadi bagian penting dari ikhtiar besar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam memperkuat kesiapan struktur dan kader menghadapi kontestasi politik 2029.

Workshop TOTAL dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus konsolidasi strategi digital bagi seluruh jajaran PKS di Jawa Timur. 

Hadirnya Tim DPD PKS Banyuwangi dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen kuat untuk terus beradaptasi, meningkatkan kapasitas, dan memperkuat daya saing partai di era digital yang semakin dinamis.

Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap politik mengalami perubahan signifikan. Media sosial, platform digital, dan teknologi informasi telah menjadi arena utama pembentukan opini publik, komunikasi politik, hingga pelayanan masyarakat. 

PKS menyadari bahwa kemenangan politik tidak hanya ditentukan oleh kekuatan struktur di lapangan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola narasi, data, dan komunikasi digital secara terarah dan berkelanjutan.

Melalui Workshop TOTAL, DPW PKS Jawa Timur memberikan pembekalan strategis terkait transformasi digital partai, mulai dari penguatan branding politik, pengelolaan media sosial, optimalisasi konten dakwah dan pelayanan, hingga pemanfaatan data untuk kerja-kerja politik yang lebih efektif. 

Seluruh materi dirancang agar dapat langsung diterapkan oleh DPD dan struktur di bawahnya sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.

Bagi DPD PKS Banyuwangi, workshop ini menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi sekaligus akselerasi. 
Banyuwangi sebagai daerah dengan wilayah luas, keragaman sosial, dan tingkat penetrasi digital yang terus meningkat, membutuhkan strategi pendekatan politik yang adaptif dan modern. 

Transformasi digital diharapkan mampu menjembatani aspirasi masyarakat, mempercepat respon pelayanan, serta memperluas jangkauan dakwah dan kerja-kerja sosial PKS.

Lebih dari sekadar penguasaan teknologi, Workshop TOTAL menekankan pentingnya perubahan mindset. 
Kader PKS didorong untuk tidak alergi terhadap perubahan, berani belajar hal baru, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperkuat nilai-nilai perjuangan partai. 

Digitalisasi bukan untuk menggantikan kerja nyata di lapangan, melainkan memperkuatnya agar lebih terukur, efektif, dan berdampak luas.

Kehadiran Tim DPD PKS Banyuwangi juga menjadi bagian dari konsolidasi lintas daerah. 
Forum ini membuka ruang berbagi pengalaman, praktik, serta tantangan yang dihadapi masing-masing DPD dalam mengelola kerja-kerja digital. 
Sinergi antar daerah diyakini akan mempercepat kematangan sistem digital PKS secara keseluruhan, khususnya di Jawa Timur.

Menuju 2029, PKS menargetkan penguatan basis dukungan yang lebih solid dan meluas. 
Transformasi digital menjadi salah satu pilar utama untuk mencapai target tersebut. 

Dengan sistem komunikasi yang terintegrasi, konten yang terarah, serta data yang akurat, PKS optimistis mampu menghadirkan politik yang lebih bersih, dekat dengan rakyat, dan solutif.

Bagi PKS Banyuwangi, hasil dari Workshop TOTAL ini akan ditindaklanjuti dengan penguatan tim digital di tingkat DPD hingga ranting, peningkatan kualitas konten lokal yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta optimalisasi media digital sebagai sarana edukasi politik dan pelayanan umat. 
Semua langkah ini diarahkan untuk membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.

Workshop TOTAL juga menegaskan bahwa kemenangan PKS 2029 bukanlah hasil kerja instan, melainkan buah dari proses panjang yang dimulai dari penguatan kapasitas kader hari ini. 

Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan istiqamah dalam pelayanan, PKS terus menata langkah menuju kemenangan yang bermartabat.

Melalui transformasi digital yang terencana dan berlandaskan nilai, PKS Banyuwangi siap mengambil peran strategis dalam memenangkan hati rakyat. 

Workshop TOTAL di Jember menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut—sebuah ikhtiar nyata untuk menghadirkan PKS yang semakin relevan, kuat, dan siap menang di 2029.
Share:

Selasa, 23 Desember 2025

Bakti Anak Kepada Ibu, Mengantarkan Uwais Al Qorni Harum Namanya di Langit

Di bumi, namanya nyaris tak dikenal. 

Tak ada istana, tak pula sorotan manusia. Namun di langit, namanya masyhur. 

Para malaikat mengenalnya. Rasulullah Saw menyebutnya. 

Dialah Uwais Al-Qarni, seorang pemuda sederhana dari Yaman yang meraih kemuliaan bukan karena jabatan atau harta, melainkan karena baktinya kepada seorang ibu.

Uwais hidup pada masa Rasulullah Saw. 
Ia sangat ingin bertemu Nabi, menatap wajah manusia paling mulia itu, dan duduk di majelis ilmu beliau. 
Namun keinginannya harus ia pendam. 

Ibunya adalah seorang perempuan renta yang sakit-sakitan. 
Uwais menjadi satu-satunya sandaran hidupnya. 

Ia memilih tinggal, merawat, dan mengabdi, meski itu berarti mengorbankan impian terbesar seorang mukmin: bertemu Rasulullah Saw.

Pilihan Uwais bukan pilihan biasa.
Ia tahu, ridha Allah terletak pada ridha ibu.
Ia paham, bakti kepada orang tua—terutama ibu—adalah jalan terdekat menuju surga.

Allah Saw berfirman:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak.”
(QS. Al-Isra’: 23).

Uwais menjalankan ayat itu bukan sekadar dengan kata-kata, melainkan dengan seluruh hidupnya.

Dikenal Rasulullah, Meski Tak Pernah Bertemu
Keistimewaan Uwais Al-Qarni diungkap langsung oleh Rasulullah Saw dalam hadist shahih riwayat Muslim. 

Rasulullah Saw bersabda kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib:
“Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir dari Yaman… dia berbakti kepada ibunya. 

Jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”
(HR. Muslim)

Bayangkan, seorang yang tidak pernah bertemu Nabi, tetapi justru diperkenalkan Nabi kepada para sahabatnya. 

Bukan karena ilmu yang masyhur, bukan karena kedudukan sosial, tetapi karena baktinya kepada ibu.

Inilah standar kemuliaan dalam Islam: bukan siapa kita di mata manusia, tapi siapa kita di hadapan Allah.

Bakti yang Mengangkat Derajat
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Uwais memiliki penyakit belang di tubuhnya. 

Ia berdoa, dan Allah menyembuhkannya kecuali satu bagian kecil, agar ia tetap rendah hati dan ingat kepada Allah. Doanya mustajab. 

Namun keistimewaan terbesar Uwais bukan pada doanya, melainkan ketaatannya kepada ibu.
Rasulullah Saw bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi)

Uwais memahami hadist ini dengan sepenuh jiwa. 

Ia menggendong ibunya, melayaninya, dan mendahulukan kebutuhannya di atas segalanya. 

Bahkan ketika kesempatan bertemu Rasulullah Saw, ia tetap memilih tinggal bersama ibunya.

Tak Terkenal di Bumi, Tapi Harum di Langit
Uwais tidak meninggalkan karya tulis. Tidak pula memimpin pasukan. 

Namun namanya harum di langit karena satu hal: bakti yang ikhlas.

Di tengah zaman yang sering mengukur kesuksesan dari popularitas dan pencapaian duniawi, kisah Uwais Al-Qarni hadir sebagai koreksi besar. 

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan bisa lahir dari rumah kecil, dari seorang anak yang setia menemani ibunya, dari pengorbanan yang tak dilihat kamera.

Allah Swt mengingatkan:
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.”
(QS. Luqman: 14)

Syukur kepada Allah tak pernah terpisah dari bakti kepada ibu.
Hikmah untuk Zaman Sekarang
Kisah Uwais Al-Qarni bukan sekadar cerita masa lalu. 
Ia adalah cermin bagi kita hari ini. 

Di tengah kesibukan, gawai, dan ambisi pribadi, masihkah ibu menjadi prioritas? Masihkah doa ibu kita jaga?

Kemuliaan sejati tidak selalu datang dari panggung besar. Kadang ia lahir dari kesetiaan merawat ibu, dari kesabaran mendengar keluhnya, dari tangan yang menggenggamnya di usia senja.

Seperti Uwais, kita mungkin tak dikenal manusia. 
Tapi jika ibu ridha, langit akan mengenal nama kita.
Share:

Senin, 22 Desember 2025

Rakerda PKS Banyuwangi Perkuat Konsolidasi dan Targetkan Empat Kursi di Pemilu 2029

Banyuwangi – Dalam rangka memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyusun langkah strategis ke depan, PKS Banyuwangi menyelenggarakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) pada Ahad, 21 Desember 2025, bertempat di Balai Saji Banyuwangi. 

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini dihadiri oleh jajaran pengurus DPW, DPD, DPC, serta perwakilan kader dari seluruh wilayah Banyuwangi dengan jumlah peserta mencapai 100 orang.

Rakerda mengusung tema “Kokohkan Barisan, Tingkatkan Pelayanan, Raih Kemenangan”. 

Tema tersebut mencerminkan semangat kolektif untuk memperkuat soliditas internal, meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, serta menyiapkan strategi organisasi yang matang dan berkelanjutan. 

Pesan utama yang ingin ditegaskan adalah bahwa kemenangan tidak diraih secara instan, melainkan melalui kerja terencana, kebersamaan, dan konsistensi dalam melayani masyarakat.

Kegiatan Rakerda berlangsung dalam suasana penuh semangat dan kekeluargaan. 
Para peserta hadir dengan tekad yang sama, yakni menjadikan PKS Banyuwangi sebagai organisasi yang solid, responsif, dan mampu menjawab tantangan zaman. 

Kehadiran pengurus dari berbagai tingkatan menunjukkan kuatnya komitmen bersama untuk menyatukan visi dan langkah dalam membangun kekuatan organisasi dari tingkat daerah hingga akar rumput.

Rakerda ini menjadi forum strategis untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program kerja sebelumnya. Berbagai capaian, tantangan, serta hambatan yang dihadapi di lapangan dibahas secara terbuka dan konstruktif. 

Evaluasi tersebut menjadi landasan penting untuk memperbaiki pola kerja, meningkatkan efektivitas program, serta memastikan bahwa setiap langkah organisasi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Banyuwangi.

Selain evaluasi, Rakerda juga difokuskan pada perumusan rencana kerja daerah yang lebih terarah dan terukur. 

Seluruh peserta didorong untuk aktif menyampaikan gagasan, masukan, serta pengalaman lapangan yang relevan. 

Diskusi berlangsung dinamis dan produktif, mencerminkan semangat musyawarah dan keterbukaan dalam pengambilan keputusan strategis organisasi.

Salah satu penekanan utama dalam Rakerda ini adalah pentingnya kekokohan barisan kader. 

Soliditas internal dipandang sebagai fondasi utama dalam menghadapi berbagai dinamika sosial dan tantangan politik ke depan. 

Dengan barisan yang kokoh, komunikasi yang terjaga, serta kepercayaan yang kuat antarstruktur, organisasi diyakini mampu bergerak lebih cepat, tepat, dan efektif.

Di samping itu, peningkatan pelayanan kepada masyarakat menjadi fokus yang tidak terpisahkan. 
PKS Banyuwangi menegaskan bahwa pelayanan yang tulus, solutif, dan berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat merupakan kunci utama dalam membangun dan menjaga kepercayaan publik. 

Pelayanan dipahami bukan sekadar program, melainkan wujud nyata kehadiran partai di tengah kehidupan masyarakat.

Rakerda ini juga menegaskan keunikan dan kekuatan budaya organisasi PKS, khususnya dalam proses pergantian kepemimpinan di seluruh level struktur. 

PKS dikenal mampu menjaga transisi kepemimpinan secara adem ayem, dewasa, dan bermartabat, tanpa diwarnai sengketa maupun pertikaian internal. 

Budaya musyawarah, ketaatan pada mekanisme organisasi, serta kedewasaan kader menjadi fondasi yang menjaga soliditas partai tetap utuh dari waktu ke waktu.

Dalam sambutannya, Ketua DPD PKS Banyuwangi, Widodo, SP., M.Tr.P., menyampaikan bahwa kekuatan utama PKS terletak pada kekompakan barisan dan keteguhan nilai, bukan pada figur semata. 

Menurutnya, stabilitas internal merupakan modal besar bagi PKS untuk bekerja lebih fokus dan optimal dalam melayani masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Widodo juga menyampaikan harapan dan target capaian Pemilu 2029, yakni meraih empat kursi legislatif di Banyuwangi. 

Target tersebut, tegasnya, bukan sekadar angka, melainkan bentuk tanggung jawab politik untuk menghadirkan wakil rakyat yang lebih kuat, lebih amanah, dan lebih maksimal dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Banyuwangi.

Ia menekankan bahwa target tersebut hanya dapat dicapai melalui kerja kolektif seluruh struktur, mulai dari DPW, DPD, DPC, hingga kader di tingkat akar rumput. 

Dengan barisan yang kokoh, pelayanan yang konsisten, serta komunikasi yang baik dan berkelanjutan dengan masyarakat, Widodo optimistis PKS Banyuwangi mampu meningkatkan kepercayaan publik dan meraih hasil terbaik pada Pemilu 2029.

Rakerda PKS Banyuwangi ditutup dengan komitmen bersama seluruh peserta untuk mengawal dan mengimplementasikan hasil-hasil Rakerda secara konsisten. 

Seluruh keputusan yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata di lapangan demi kemajuan organisasi dan kemaslahatan masyarakat Banyuwangi.
Share:

Pandangan Islam tentang Ibu: Pilar Keluarga, Sumber Ketahanan Bangsa

Islam menempatkan ibu sebagai sosok yang sangat mulia.

Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga sebagai pilar penting dalam membangun masyarakat dan bangsa. 

Dari keluarga yang kuat dan penuh kasih sayang, akan lahir generasi yang berakhlak, berdaya, dan siap membangun negeri.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan perintah berbakti kepada orang tua, dengan penekanan khusus pada ibu yang mengandung dan melahirkan dalam kondisi penuh pengorbanan. 

Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan ibu adalah bagian dari nilai luhur yang dijaga langsung oleh wahyu.

Rasulullah Saw juga menegaskan keutamaan ibu melalui sabda beliau yang masyhur. 

Ketika seorang sahabat bertanya tentang siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan terbaik, Nabi menjawab “ibumu” sebanyak tiga kali, baru kemudian “ayahmu”. 

Hadist ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, menjadi landasan kuat dalam ajaran Islam tentang bakti kepada ibu.

Para ulama terdahulu menegaskan bahwa ibu adalah pendidik pertama dan utama. Imam Al-Ghazali menyebut bahwa kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh sentuhan kasih dan keteladanan ibu. 

Sementara Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa kekuatan akhlak sebuah generasi berawal dari rumah, dan rumah yang kuat bertumpu pada peran ibu.Islam tidak hanya memuliakan ibu secara simbolik, tetapi juga menuntut pembuktian nyata. 

Berbakti kepada ibu diwujudkan melalui sikap lembut, kesabaran, perhatian, serta kesiapan mendampingi ibu di masa tua. 

Bahkan larangan berkata kasar sekecil apa pun ditegaskan dalam Al-Qur’an sebagai bentuk penjagaan martabat orang tua.

Di tengah tantangan zaman modern, ketika keluarga menghadapi tekanan ekonomi, sosial, dan budaya, peran ibu semakin strategis. 

Ketahanan keluarga—yang menjadi fondasi ketahanan bangsa—sangat bergantung pada bagaimana ibu dihormati, didukung, dan dimuliakan.

Momentum peringatan Hari Ibu menjadi pengingat bahwa memuliakan ibu bukan sekadar tradisi, tetapi amanah keimanan dan kebangsaan. 

Dengan menjaga kehormatan ibu, kita menjaga masa depan keluarga, masyarakat, dan Indonesia yang lebih beradab dan berkeadilan.
Share:

Alamat

Jl. Brawijaya gg. Keadilan, Kel. Kebalenan Kec. Banyuwangi Kab. Banyuwangi