Segelas Takjil hingga Ketahanan Keluarga

Hanya dua alasan yang membuat seseorang memutuskan pergi sejauh mungkin.

Satu karena kebencian yang amat besar. Satu lagi karena rasa cinta yang amat dalam.

About Life - Tere Liye

Pergi, sebuah kata yang semua kita mengenalnya dengan berbagai warna. Tapi kali ini aku ingin memaknai 'pergi' sebagai bentuk bergerak. Butuh keberanian untuk seseorang bergerak, dan butuh dua alasan untuk ia memutuskan pergi sejauh mungkin. Karena benci atau cintanya yang amat besar. 

Seperti halnya siang ini para ibu berkumpul satu persatu, ada yang mengupas melon semangka, ada yang membuat campuran gula santan dan susu, di pojok sana ada para gadis yang memotong melon dan semangka menjadi dadu, eh ada juga simbah yang menyerut agar-agar kelapa. Seolah apa yang mereka kerjakan adalah hal yang semestinya. 

Sejam kemudian datang bapak-bapak membawa beberapa kardus juga bak, mereka dengan gesit mengambil tutup gelas dan mulai melakukan packing bersama mbak-mbak dan juga ibu-ibu disana tanpa ada rasa canggung seolah memang mereka biasa demikian.

Makin sore ba'da ashar satu persatu merapikan diri mengenakan baju bercorak putih, hitam dan orange. Bahu membahu mereka menuju satu titik lampu merah di Sukowidi. Ketika lampu merah, dibalik masker mereka tersenyum sambil mengulurkan segelas minuman hasil karya dapur.  



Aku bertanya,"Apa yang membuat mereka sebahagia melakukan hal kecil ini? Apa gak ada kerjaan lain atau bagaimana?"

Karena biasanya yang turun kejalan berbagi takjil adalah anak-anak muda di organisasi sebagai proker tahunan di bulan Ramadha. Lalu apa yang membuat mereka mau turun ke jalan?

Ternyata mereka membawa misi,"Indonesia ini butuh semua kita untuk bekerja membangun negeri, bersama-sama mencipta gelombang kebaikan yang berdampak". Meski kecil, bukankah kebaikan tetaplah kebaikan? Dari segelas kecil ini, ternyata pengurus BPKK (Badan Perempuan dan Ketahanan Keluarga)  menyelipkan pesan-pesan bahwa PKS Banyuwangi ada bersama masyarakat bukan hanya saat menjelang pemilu saja, tapi hadir sepanjang waktu. 

Tahukah kamu, ada satu hal lagi yang membuatku takjub.

Dana yang digunakan adalah swadaya dari para relawan dan kader PKS sendiri.

Menebar cinta melalui kantong-kantong sendiri, kalau bukan karena cinta karena apalagi?

Bisa jadi karena cinta para relawan dan kader untuk masyarakat Banyuwangi, bisa juga karena kebencian mereka terhadap hal yang tak baik. cinta mereka menggerakkan untuk mengenalkan partai ini kepada masyarakat bahwa kehadirannya adalah untuk melayani rakyat dan kebencian mereka terhadap hal yang buruk membuat mereka bergerak melakukan hal meski kecil tapi berdampak. 

Citanya satu, Indonesia ini senantiasa terawat oleh kita semua, kita semua yang bergandeng tangan saling bertumbuh dan menumbuhkan.

Kegiatan hari ini sebenarnya adalah kegiatan penutup turun ke jalan selama bulan Ramadhan yang dilaksanakan oleh Dewan Pimpinan Cabang yang ada di dapil 1-5 Banyuwangi. Menyambung tali silaturahim sekaligus merekatkan rasa kepemilikan terhadap gerakan kebaikan bahwa semua kita bisa bergerak dalam kebaikan. 

Selama bulan Ramadhan ini, BPKK juga menginisiasi untuk memunculkan RKI (Rumah Keluarga Indonesia) di DPC PKS yang ada di Banyuwangi. Sebagai upaya membangun Indonesia dari kelompok terkecil masyarakat yakni keluarga, karena ketahanan keluarga adalah cerminan Indonesia. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.